Selamat Datang Di Blogspot Berita Patroli Bengkalis

Minggu, 14 Agustus 2011

Lelang di RSUD Bengkalis Kisruh Rekanan Yang Setor Kalah Tender

Bengkalis , Berita Patroli
           Lelang pengadaan alat kesehatan (alkes) di RSUD Kabupaten Bengkalis tahun anggaran 2011 kisruh, diduga kuat terjadi intervensi dari pihak-pihak tertentu. Indikasi itu terlihat dari nama-nama perusahaan pemenang yang diumumkan panitia pada 4 Agustus lalu, dinilai tidak sesuai spesifikasi (spek) barang yang tertuang dalam dokumen lelang.
          Kisruh lelang di RSUD Bengkalis itu sendiri, bukan hanya masalah spesifikasi saja, akan tetapi diduga kuat panitia lelang mengutip uang muka (setoran) terhadap rekanan apabila ingin memenangkan paket yang mayoritas pengadaan alkes. Akan tetapi pada kenyataannya sekitar 20-an rekanan yang sudah setor malah kalah tender, atau tidak mendapat paket yang dijanjikan panitia.
Salah seorang rekanan yang mengikuti proses lelang di RSUD Bengkalis mensinyalir ada pihak-pihak yang membekingi sehingga perusahaan yang dinilai tak layak menang, tapi dimenangkan panitia. Ia mencontohkan pada lelang pengadaan alkes BHP, pengadaan barang kimia, pengadaan alat-alat rehabilitasi kedokteran medik,  pengadaan alat-alat kedokteran anak dan pengadaan alat-alat kedokteran bedah.
“Ada rekanan yang tidak memiliki dukungan dari distributor sesuai dengan spesifikasi yang diminta serta tidak lengkap spesifikasi teknisnya, tapi tetap dimenangkan. Kemudian dari harga penawaran-pun perusahaan tersebut berada di peringkat empat,” ujar Agus, dari CV Sinar Harapan Utama, akhir pekan lalu.
 Ketika ditanya siapa oknum yang disinyalir mengintervensi lelang pengadaan barang dan jasa senilai sekitar Rp.5 miliar lebih itu, Agus tidak tahu persis. Tapi beredar informsi dari kalangan rekanan menyebut nama oknum Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkalis serta pengurus PWI Bengkalis.
Ia mencontohkan lelang pengadaan  alkes BHP sekitar Rp.900 juta, pengadaan alat-alat rehabilitasi kedokteran medis senilai Rp.880 juta dan pengadaan bahan kimia. Dikatakan Agus perusahaan yang dimenangkan malah tidak ada dukungan dari distributor maupun pabrikan sesuai spesifikasi alat yang diinginkan user, dalam hal ini dokter RSUD.
Berdasarkan pengumuman panitia pengadaan barang dan jasa RSUD Bengkalis No 03/PP/PAN-RSUD/VIII/2011 yang ditandatangani Ismunandar, SKM, untuk paket pengadaan perlengkapan kesehatan /BHP dimenangkan CV.Melayu Era Kencana, alat-alat rehabilitasi kedokteran medik dimenangkan CV.Krida Kita, pengadaan bahan kimia dimenangkan PT.Pulau Jemur, pengadaan alat-alat kodokteran anak dimenangkan CV.Indo Pura Prima.
Pada pengumuman yang ditempelkan di depan apotik  RSUD itu juga tertulis jika ada keberatan atas pengumuman lelang tersebut rekanan bisa mengajukan sanggahan sesuai prosedur secara tertulis selama masa sanggah (5 Agustus s/d 10 Agustus 2011).
Terima Setoran
Menurut sumber yang layak dipercaya, spesifikasi barang dirubah panitia lelang tanpa ada pembicaraan dengan user (dokter yang menggunakan alat) terlebih dahulu. Hal itu dilakukan panitia untuk memenangkan rekanan titipan pihak-pihak tertentu.
Di samping itu, panitia juga diduga menerima setoran dari sejumlah rekanan (sekitar 20 rekanan) yang ikut lelang tersebut. Jika ditotalkan jumlah setoran mencapai  Rp300-an juta lebih. Anehnya rekanan yang sudah menyetor tersebut kalah dan uangnya tidak dikembalikan oleh panitia.
“Sejumlah rekanan yang menyetor uang muka ke panitia. Jumlahnya bervariasi, mulai dari Rp.15 juta sampai Rp.85 juta. Kalau dijumlahkan semuanya mencapai Rp300-an juta. Sejak pengumuman lelang, sudah beberapa rekanan yang mencari panitia lelang, terutama ketua panitia lelang Ismunandar untuk minta penjelasan kenapa mereka tidak dapat paket, padahal uang sudah setor. Tapi ketua panitia lelang menghilang dan hp-nya tidak aktif lagi,” ujar sumber tersebut.
Ketika Berita Patroli coba menghubungi via telefon selular dengan ketua panitia, Ismunandar dari awalnya sempat aktif tapi tidak diangkat. Ketika coba dihubungi lagi, nomor tersebut sudah tidak aktif lagi, termasuk sms yang dikirim juga tidak dibalas.
Pada saat pengumuman pemenang ada rekanan yang mengamuk, pada Kamis sore, 4 Agustus 2011. Rekanan itu sempat mengeluarkan pisau di ruang radiologi ketika mendapat informasi bahwa ia kalah tender, sementara ia sudah setor duluan Rp17 juta ke panitia pada paket pengadaan mesin foto copy senilai Rp.150 juta.
“Awalnya rekanan yang dimenangkan itu perusahaan yang berada di urutan 7 pemiliknya ada hubungan saudara dengan salah satu petinggi di RSUD. Tapi setelah rekanan nomor urut 8 marah-marah dan mengamuk, akhirnya pemenangnya dibatalkan dan diberikan kepada perusahaan nomor urut 8 tersebut,” ujar sumber itu lagi.
Kejanggalan lain juga terjadi pada paket pengadaan baju melayu senilai Rp.100 juta lebih. Awalnya ketika buka sampul panitia dan rekanan sepakat memending pengadaan tersebut karena dari tiga perusahaan yang memasukkan penawaran, satu perusahaan tidak lengkap, hanya melampirkan bestek.
Menurut informasi yang diperoleh sumber tersebut, pengadaan baju Melayu ini sudah dikerjakan duluan oleh rekanan yang juga masih ada hubungan dengan salah
satu petinggi di RSUD Bengkalis. Makanya aroma permainan dalam penetapan
pemenangnya sangat kental.
Berdasarkan informasi yang dirangkum dari sejumlah dokter di RSUD selaku user (pengguna) alat medis, tidak membantah adanya informasi tentang perusahaan-perusahaan yang ditetapkan sebagai pemenang oleh panitia lelang tidak sesuai dengan spek awal yang diminta. Seperti alat fisiotrapi, inkubator untuk anak bayi dan alat bedah, kabarnya rekanan yang ditunjuk sebagai pemenang menawarkan barang  yang tidak sesuai dengan spek yang diminta dokter.
Jika hal itu memang benar adanya, para dokter sepakat tidak akan menerima barang tersebut karena tidak mau ambil resiko.Seperti disampaikan dr Kobal dari unit rehabilitasi medik. Untuk tahun ini pihaknya mengusulkan 5 unit alat fisiotrapi senilai Rp.832 juta. Sesuai spek, alat yang diusulkan tersebut merupakan kualitas terbaik, baik secara teknologi, keselamatan maupun kegunaannya. Alat tersebut dikeluarkan salah satu pabrikan di Jerman dan pihaknya terbiasa menggunakan alat itu dan memang sudah terbukti bagus kualitasnya.
“Hal itu sudah kita sampaikan kepada panitia dan rekanan saat anjwizing. Kenapa kita pilih spek semacan itu karena kita inginkan yang terbaik untuk masyarakat Bengkalis, lagi pula secara finansial kita mampu. Jadi tidak ada salahnya
masyarakat mendapat layanan yang terbaik. Tak lama lagi kita juga menjadi tuan
rumah PON, jadi tak ada salahnya kita menginginkan yang terbaik, ” ungkapnya.
Kobal tidak menapik adanya informasi bahwa rekanan yang ditetapkan sebagai pemenang speknya berubah.  Guna memastikannya, pria berkulit putih ini berencana akan menanyakan hal itu kepada panitia lelang, apakah memang benar telah terjadi perubahan spek dari yang diusulkannya.
“Jika memang betul, saya tidak akan terima barang tersebut. Siapa yang menjamin ketika alat yang tidak kita rekomendasikan tiba-tiba mengalami kecelakaan saat pengoperasian. Untuk itu saya tidak mau ambil resiko jika barangnya nanti tidak sesuai dengan yang kita minta,” ungkap Kobal.
Membantah
Sementara Sekreratis RSUD Bengkalis Dahen Tawakal ketika dihubungi membantah adanya intervensi dalam proses lelang pengadaan barang dan jasa di kantornya. Tapi untuk lebihnya jelasnya ia menyarankan untuk konfirmasi langsung kepada ketua panitia.
“Pimpinan di RSUD tidak ada intervensi terhadap panitia lelang. Demikian pula dari pihak luar, setahu saya tidak ada. Tapi untuk lebih jelasnya silakan hubungi panitianya,” tegas Dahen. ( ed )


Gedung Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD ) Bengkalis


0 komentar:

Poskan Komentar